Media Tradisional Disensor, Anak Muda Malaysia Beralih ke Media Sosial

In our Selected Exhortations category, we republish interesting stuff such as must-read articles and essays not originally written exclusively for the blawg, and which have come to our attention. Please feel free to email [email protected] if you would like to reproduce your writing, but first follow our Writer’s Guide here.

The two articles below are by Ismira Lutfia, and were previously published here and here. The posts are in Bahasa Indonesia. LoyarBurokker Marcus van Geyzel was mind-controlled by Lord Bobo to spread the world domination of LoyarBurok to Jakarta — his recap of his experiences there will be on the blawg soon.

++++

Media Tradisional Disensor, Anak Muda Malaysia Beralih Ke Media Sosial

Maraknya kontrol pemerintah terhadap media tradisional, kelompok usia muda di Malaysia pun beralih ke media sosial berbasis digital sebagai sumber utama informasi mereka.

Dalam indeks kebebasan pers 2010 yang disurvei oleh organisasi jurnalis internasional Reporters Without Borders (RWB), Malaysia berada di peringkat ke 141 dari 178 negara, di bawah Indonesia yang berada pada peringkat 117, Kamboja di peringkat 128, dan Singapura yang menduduki peringkat 136.

Namun kondisi kebebasan pers Malaysia tahun lalu masih lebih dibanding Brunei di posisi 142, Thailand di posisi ke 153, Filipina di posisi 156, Vietnam di posisi 165, dan Laos di peringkat 168. Peringkat kebebasan pers yang terendah di ASEAN adalah Myanmar di posisi 174.

“Apa yang dilaporkan media arus utama (di Malaysia) bukan kebohongan. Tapi, hanya setengah dari kebenaran. Oleh karena itu, masyarakat sudah mulai hilang kepercayaan terhadap media arus utama,” ujar Marcus van Geyzel, seorang blogger dari Malaysia, dalam sebuah perbincangan mengenai lanskap dunia digital di Asia Tenggara dengan blogger-blogger dari beberapa negara anggota ASEAN yang diadakan pusat kebudayaan Amerika @america, Minggu (4/12).

Namun, tambah Marcus, pemerintah Malaysia tidak memberlakukan sensor terhadap konten blog di internet. Bahkan, pemerintah dan politisi di Malaysia mulai mengadopsi penggunaan media sosial.

“Mereka memilih menggunakan media yang ada di internet, daripada memblokirnya,” ujar Marcus, sambil menambahkan bahwa kebijakan itu adalah bagian dari usaha pemerintahan Perdana Menteri Najib Razak untuk “terlihat lebih ramah kepada  blogger.”

Walaupun begitu, Marcus mengatakan, pemerintah Malaysia tidak akan mendukung kegiatan yang akan mendorong munculnya lebih banyak blogger di sana. “Pemerintah Malaysia tidak akan mendukung ide dan akan sangat berhati-hati untuk menyediakan ruang lebih banyak bagi blogger karena apa akan ditulis akan merusak kredibilitas mereka,” ujar Marcus, yang sehari-hari berprofesi sebagai pengacara.

The ASEAN bloggers. | Photo by Nayana Dharsono for LoyarBurok

++++

Sensor Internet Jadi Sorotan Para Blogger

Beberapa politisi dan menteri di Singapura memanfaatkan situs jejaring sosial dan mempunyai akun di Facebook untuk menjawab pertanyaan dari masyarakat

Pemerintah suatu negara tidak perlu melakukan sensor di Internet bila mereka dapat membina hubungan baik dengan warganya di dunia maya, ujar seorang blogger dari Singapura. “Bila suatu pemerintahan percaya diri dalam mengelola wilayahnya dengan baik di Internet, mereka akan punya komunikasi yang lebih baik dengan warganya di dunia maya dan tidak perlu lagi melakukan sensor,” ujar Zheng “William” Wei, dalam sebuah perbincangan mengenai lanskap dunia digital di Asia Tenggara yang diadakan oleh pusat kebudayaan Amerika, @america, Minggu (4/12). Namun isu mengenai sensor dunia maya, ujar William, tidak lagi menjadi hal yang hangat dibicarakan di Singapura.  “Yang lebih penting sekarang adalah bagaimana seseorang bisa mempunyai perilaku berinternet yang bertanggungjawab,” kata William.

Blogger dari Filipina, Flow Galindez juga menyatakan hal yang sama, bahwa di pemerintah di negaranya tidak menyensor Internet. “Hal yang disosialisasikan sekarang adalah konsep untuk berpikir sebelum mengklik [informasi di Internet] bagi para blogger,” ujar Flow, merujuk pada imbauan bagi pengguna Internet untuk berhati-hati dengan tulisannya di dunia maya dan situs jejaring sosial yang bisa merugikan dirinya ataupun orang lain.

Penyensoran terhadap konten di Internet juga tidak ada di Malaysia, ujar Marcus van Geyzel, seorang blogger dan pengacara dari Malaysia. “Satu hal yang menjadi masalah dengan penggunaan situs jejaring sosial di Malaysia adalah pencemaran nama baik individu,” ujar Marcus.

Dengan perkembangan penggunaan situs jejaring sosial yang seperti itu, William menambahkan sekarang ini mulai banyak muncul imbauan di Internet bagi untuk menggunakan identitas asli bagi pengguna Internet dan pemilik akun di situs jejaring sosial. “Dengan menggunakan nama aslinya, pengguna Internet akan lebih bertanggung jawab dan berhati-hati untuk mengatakan sesuatu di Internet,” ujar William, yang juga berprofesi sebagai redaktur di perusahaan media Singapore Press Holdings. Di Singapura sendiri, masyarakatnya sangat adaptif dalam penggunaan situs jejaring sosial berbasis Internet terutama dalam pemilihan umum bulan Mei lalu.

“Beberapa politisi dan menteri juga memanfaatkan keberadaan situs jejaring sosial dan mempunyai akun di Facebook, bahkan beberapa menteri menggunakannya untuk menjawab pertanyaan dari warga saat tengah malam,” ujar William,  sambil menambahkan bahwa walaupun jumlah pengguna Internet di Asia Tenggara terus bertambah, sebagian besar populasi di ASEAN masih belum terhubung dengan Internet.

Hal ini juga diungkapkan oleh blogger dari Laos, Sounay Photisane, yang mengatakan bahwa infrastruktur teknologi informasi di negaranya masih belum baik dan hanya berfungsi bagus di kota besar seperti di ibukotanya, Vientiane. “Jurang digital [digital divide] di ASEAN sangat besar, karena itu blogger di ASEAN harus bisa menyuarakan mereka yang suaranya tidak terdengar, seperti petani yang menghadapi masalah dengan sawahnya,” ujar William.

Iman Usman, blogger dari Indonesia menambahkan bahwa hal itu menunjukkan komunitas dunia maya mempunyai peran untuk menyuarakan suatu isu dan menginformasikan masyarakat mengenai suatu kebijakan pemerintah yang berdampak pada kehidupan mereka. “Apa yang sedang terjadi di dunia maya mencerminkan apa yang sedang terjadi di dunia nyata,” ujar Iman.


(Visited 511 times, 1 visits today)

Tags: , , , , , , , ,


The collective persona of Lord Bobo's minions (yes, all the cheeky monkeys and monkettes). Haven't you heard? LoyarBurokking is a lifestyle. Join us, and your life will never be the same again. Because it's fun.

Posted on 6 December 2011. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0.

Read more articles posted by .

Read this first: LB Terms of Use